Ketika seseorang mengalami rambut rontok disertai kulit kepala gatal dan bersisik, banyak orang langsung mengira itu hanya ketombe biasa. Padahal dalam dunia medis, kondisi tersebut bisa saja merupakan Tinea Kapitis, yaitu infeksi jamur pada kulit kepala yang menyerang batang rambut hingga ke akarnya.

Kondisi ini tidak boleh dianggap ringan karena dapat menyebabkan kerontokan rambut, peradangan, hingga kebotakan sementara bahkan permanen jika terjadi kerusakan folikel.
Menurut Dr. Antonella Tosti dalam bukunya berjudul Atlas of Hair Disorders (2020) menyebutkan:
“Tinea capitis merupakan infeksi dermatofita pada kulit kepala yang paling sering terjadi pada anak-anak, namun juga dapat terjadi pada dewasa dengan manifestasi berupa kerontokan rambut berbentuk patch, sisik, dan inflamasi.”
Artikel ini akan membahas Tinea Kapitis secara lengkap dengan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap berbasis medis agar edukatif dan akurat.
Pengertian Tinea Kapitis
Tinea Kapitis adalah infeksi jamur dermatofita yang menyerang kulit kepala dan batang rambut. Jamur ini hidup pada jaringan yang mengandung keratin seperti rambut, kulit, dan kuku.
Saat jamur masuk ke dalam folikel rambut, struktur rambut menjadi lemah, mudah patah, dan akhirnya rontok. Pada beberapa kasus, peradangan yang terjadi dapat merusak folikel secara permanen.
Menurut Dr. Jerry Shapiro dalam bukunya berjudul Hair Disorders: Current Concepts in Pathophysiology (2019) menyebutkan:
“Tinea capitis adalah infeksi jamur pada folikel rambut yang dapat menyebabkan peradangan, kerontokan rambut, dan dalam kasus berat dapat menimbulkan jaringan parut.”
Dengan kata lain, ini bukan sekadar masalah kulit kepala ringan, melainkan infeksi yang benar-benar menyerang akar rambut.
Penyebab Tinea Kapitis

Penyebab utama Tinea Kapitis adalah infeksi jamur dermatofita. Jenis jamur yang paling sering ditemukan antara lain Trichophyton tonsurans, Microsporum canis, dan Trichophyton mentagrophytes.
Infeksi ini dapat menyebar melalui beberapa cara seperti kontak langsung dengan orang yang terinfeksi, penggunaan barang pribadi bersama seperti sisir, handuk, atau topi, serta dari hewan peliharaan seperti kucing dan anjing.
Lingkungan yang lembap dan kurang higienis juga dapat meningkatkan risiko pertumbuhan jamur.
Menurut Dr. Richard Hay dalam bukunya berjudul Fungal Infections of the Skin (2018) menyebutkan:
“Dermatophyte fungi yang menyebabkan tinea capitis dapat bertahan di permukaan benda mati untuk waktu yang lama sehingga meningkatkan risiko penularan tidak langsung.”
Hal ini menjelaskan mengapa infeksi ini cukup mudah menyebar di lingkungan rumah atau sekolah.
Jenis-Jenis Tinea Kapitis

Tinea Kapitis memiliki beberapa bentuk klinis yang berbeda tergantung respons tubuh dan jenis jamur yang menginfeksi.
- Pada tipe grey patch, rambut tampak patah dekat kulit kepala dengan area yang terlihat abu-abu dan bersisik. Biasanya terjadi pada anak-anak dan sering tidak disadari pada tahap awal.
- Pada tipe black dot, rambut patah di permukaan kulit kepala sehingga terlihat titik-titik hitam kecil. Ini merupakan salah satu tanda khas infeksi jamur pada folikel rambut.
- Pada tipe kerion, kondisi menjadi lebih serius dengan munculnya benjolan besar, nyeri, kemerahan, dan kadang bernanah. Tipe ini merupakan reaksi inflamasi berat yang bisa menyebabkan jaringan parut.
- Ada juga tipe inflamasi ringan hingga sedang yang ditandai dengan gatal, kemerahan, dan rambut rontok bertahap.
Menurut Dr. David G. Smith dalam bukunya berjudul Clinical Dermatology in Infectious Diseases (2021) menyebutkan:
“Tinea capitis bentuk inflamasi seperti kerion memiliki risiko tinggi menyebabkan kerusakan folikel permanen jika tidak segera ditangani.”
Ciri-Ciri dan Gejala Tinea Kapitis
Gejala Tinea Kapitis biasanya berkembang secara bertahap dan sering disalahartikan sebagai ketombe atau dermatitis ringan.
Kondisi ini dapat ditandai dengan rambut rontok berbentuk patch atau area tertentu, kulit kepala yang bersisik putih atau kekuningan, serta rasa gatal yang bervariasi dari ringan hingga berat.
Pada beberapa kasus, rambut terlihat patah tidak merata sehingga meninggalkan area botak kecil. Jika infeksi semakin parah, bisa muncul nanah, nyeri, dan pembengkakan pada kulit kepala.
Menurut Dr. Jerry Shapiro (2019) menyebutkan:
“Tinea capitis sering terdiagnosis terlambat karena gejalanya menyerupai kondisi kulit kepala lain seperti dermatitis seboroik atau psoriasis.”
Proses Terjadinya Kerusakan Folikel
Ketika jamur dermatofita masuk ke dalam batang rambut, ia mulai memecah keratin yang menjadi struktur utama rambut. Proses ini membuat rambut menjadi rapuh dan mudah patah.
Seiring waktu, infeksi menyebar ke folikel rambut dan memicu peradangan. Sistem imun tubuh kemudian bereaksi, yang justru dapat memperparah kerusakan jaringan di sekitar folikel.
Jika peradangan terus berlangsung, folikel rambut bisa rusak permanen dan digantikan jaringan parut, sehingga rambut tidak bisa tumbuh kembali.
Menurut Dr. Antonella Tosti dalam bukunya berjudul Atlas of Hair Disorders (2020) menyebutkan:
“Invasi dermatofita pada batang rambut menyebabkan fragilitas struktural yang diikuti oleh inflamasi folikel, yang dapat berujung pada kerusakan permanen jika tidak ditangani.”
Cara Diagnosis Tinea Kapitis
Diagnosis Tinea Kapitis dilakukan melalui pemeriksaan klinis oleh dokter, yang kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan penunjang bila diperlukan.
Dokter biasanya akan melihat pola kerontokan rambut, sisik pada kulit kepala, dan tanda peradangan. Selain itu, dermatoskopi digunakan untuk melihat struktur rambut lebih detail.
Pemeriksaan KOH (potassium hydroxide) dapat dilakukan untuk mendeteksi keberadaan jamur pada rambut atau kulit kepala. Pada beberapa kasus, kultur jamur dilakukan untuk mengetahui jenis jamur secara spesifik.
Menurut Dr. Hay (2018) menyebutkan:
“Kultur jamur tetap menjadi standar emas dalam diagnosis infeksi dermatofita meskipun memerlukan waktu beberapa hari untuk mendapatkan hasil.”
Apakah Tinea Kapitis Bisa Disembuhkan?
Tinea Kapitis dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat dan konsisten. Namun, penting dipahami bahwa infeksi ini harus diobati dari dalam tubuh karena jamur berada di dalam folikel rambut.
Rambut dapat tumbuh kembali jika folikel belum rusak secara permanen. Tetapi jika terjadi jaringan parut akibat peradangan berat, maka area tersebut tidak bisa menumbuhkan rambut kembali.
Menurut Dr. Shapiro dalam bukunya berjudul Hair Disorders (2019) menyebutkan:
“Pengobatan tinea capitis harus sistemik karena infeksi berada di dalam folikel rambut, sehingga terapi topikal saja tidak cukup.”
Metode Pengobatan Tinea Kapitis
Pengobatan utama menggunakan obat antijamur oral seperti griseofulvin, terbinafine, atau itraconazole.
Selain itu, shampo antijamur seperti ketoconazole atau selenium sulfide digunakan untuk membantu mengurangi penyebaran jamur di kulit kepala.
Perawatan tambahan meliputi menjaga kebersihan rambut, menghindari berbagi barang pribadi, dan memastikan lingkungan tetap bersih dan kering.
Menurut Dr. Tosti (2020) menyebutkan:
“Terapi oral merupakan standar utama dalam pengobatan tinea capitis karena obat topikal tidak dapat mencapai kedalaman folikel rambut secara efektif.”
Komplikasi Jika Tidak Diobati
Jika tidak ditangani dengan baik, Tinea Kapitis dapat menyebabkan kerontokan rambut permanen akibat kerusakan folikel. Dalam kasus berat, infeksi dapat berkembang menjadi kerion yang meninggalkan jaringan parut.
Selain itu, infeksi juga dapat menyebar ke area lain pada tubuh atau menular ke orang di sekitar.
Cara Mencegah Tinea Kapitis
Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan rambut secara rutin, tidak menggunakan barang pribadi secara bergantian, serta memastikan hewan peliharaan dalam kondisi sehat.

Anak-anak perlu diajarkan untuk tidak berbagi sisir, topi, atau handuk dengan teman-temannya. Jika ada anggota keluarga yang terinfeksi, sebaiknya segera dilakukan pemeriksaan untuk mencegah penularan.
Kapan Harus ke Dokter
Segera konsultasikan ke dokter jika muncul rambut rontok berbentuk bercak, kulit kepala gatal yang tidak biasa, sisik yang menebal, atau tanda peradangan seperti kemerahan dan nyeri.
Deteksi dini sangat penting untuk mencegah kerusakan folikel rambut yang bersifat permanen.
Tinea Kapitis adalah infeksi jamur pada kulit kepala yang menyerang folikel rambut dan menyebabkan kerontokan, sisik, serta peradangan.
Ya, bisa sembuh dengan obat antijamur oral. Namun harus ditangani sejak dini agar tidak terjadi kerusakan folikel permanen.
Ya, bisa menular melalui kontak langsung, sisir, handuk, topi, atau hewan peliharaan yang terinfeksi jamur.
Rambut bisa tumbuh kembali jika folikel belum rusak permanen. Jika sudah terjadi jaringan parut, pertumbuhan rambut tidak dapat kembali.
Segera ke dokter jika mengalami rambut rontok berbentuk patch, gatal parah, sisik tebal, atau tanda infeksi pada kulit kepala.
Kesimpulan
Tinea Kapitis adalah infeksi jamur pada kulit kepala yang menyerang folikel rambut dan dapat menyebabkan kerontokan rambut sementara hingga permanen. Meski terlihat sederhana, kondisi ini membutuhkan diagnosis dan pengobatan yang tepat agar tidak menimbulkan komplikasi jangka panjang.
Menurut Dr. Tosti (2020) menyebutkan:
“Deteksi dini tinea capitis sangat penting untuk mencegah kerusakan folikel rambut permanen dan mempercepat pemulihan.”
Jika Anda mengalami rambut rontok, kulit kepala gatal, bersisik, atau kebotakan yang tidak biasa, jangan menunggu sampai semakin parah.
Yuk konsultasikan di Glojas Indonesia.
Tim dokter kami siap membantu menganalisis kondisi kulit kepala Anda secara profesional dan memberikan solusi perawatan yang tepat agar rambut kembali sehat dan kuat.